VISI

Terciptanya manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wata'ala

MISI

Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan memberikan pendidikan yang terpadu baik dalam kurikulum maupun dalam sistem pendidikan.
Membentuk generasi yang beraqidah Robbaniyyah, Mutafakkih Fiddin, dan berakhlaqul karimah dengan suri tauladan Rosululloh Sholalallohu 'alaihi wasallam

TUJUAN

Terbentuknya sebuah Kurikulum yang lengkap dengan program pembelajaran dan model pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan siswa dan tuntutan masyarakat.
Terbentuknya sebuah Proses Belajar Mnengajar yang efektif dan sistematik dengan cara mengefektifkan bahan ajar serta media pengajaran yang ada

PROFIL SEKOLAH

Nama Sekolah : SMP Plus BustanulUlum
NSS : 202327772021
NPSN : 20224606
Nama Yayasan : Yayasan Pondok Pesantren BustanulUlum
Alamat : Sindangsari Sumelap Tamansari
Jenjang Akreditasi : Terakreditasi B+
Tahun Berdiri : 2003
Tahun Beroperasi : 2003
Jumlah Ronbel : 6 Rombel
Jumlah siswa : 157 orang
Jumlah Guru Tetap : -
Jumlah Guru Tidak Tetap : 31 orang

Selasa, 25 September 2007

BAGAIMANA CARA MENYUSUN KTSP YANG BENAR ?

Untuk Menyusun KTSP yang benar dari nara sumber, saya hanya mendapatkan format susunan KTSP saja, karena untuk menyusun KTSP harus melibatkan banyak unsur dari Kepala Sekolah, Wakasek Kurikulum, Kepala Program Studi hingga Guru Mata Pelajaran. Yang membuat saya berkesan adalah di akhir sesi hari pertama, yaitu para peserta pelatihan masing-masing langsung praktek menyusun silabus sesuai dengan kiat-kiat yang diberikan oleh Nara Sumber.

Bagaimanakah Cara Menyusun Silabus Yang Benar ?

Berikut di bawah ini adalah caranya.

Sebelum ke-bagaimana caranya tentu kita harus tahu dulu apa itu SILABUS.

Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi, Kompetensi dasar dan indikator ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran dan pencapaian kompetensi untuk penilaian.

Cara menyusunnya :

  1. KD (Kompetensi Dasar) dituliskan dengan memakai Kata Kerja + Kata Benda, sehingga rumusnya adalah KD=KK + KB
  2. Indikator dituliskan dengan memakai Kata Kerja Operasional + Materi Essensial.
  3. Materi Pokok adalah Kata Benda yang ada pada masing-masing Kompetensi Dasar (KD).
  4. Kegiatan Pembelajaran isinya harus merupakan kegiatan siswa dan life skill yang terkait dengan kegiatan pembelajarannya, dan tidak perlu menggunakan kata-kata siswa dapat, tapi langsung pada kegiatan siswa.
  5. Penilaian diisikan dengan jelas jika tes tertulis terdiri dari apa sajakah tertulisnya sesuaikan dengan uraian pada kolom indikator, apakah bisa ESSAY, PILIHAN GANDA, PENYUSUNAN LAPORAN atau lainnya yang sifatnya tertulis. Jika Tes-nya berbentuk Lisan demikian pula tes lisan nya apa saja.
  6. Alokasi Waktu, biasanya menggunakan rumus perbandingan 1 2 4 yaitu pada TM (Tatap Muka) dikalikan 1 pada PS (Praktek di Sekolah) dikalikan 2 dan pada PI (Praktek di Industri) dikalikan 4
  7. Sumber Belajar wajib dituliskan lengkap Judul Buku, Modul apa, yang ke-berapa serta Pengarang dan Penerbitnya.

INTROPEKSI DIRI DI BULAN SUCI RAMADHAN

Shahabat yang mulia Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ
“Apabila datang Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.”

Hadits di atas dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Shahih-nya kitab Ash-Shaum, bab Hal Yuqalu Ramadhan au Syahru Ramadhan no. 1898, 1899. Dikeluarkan pula dalam kitab Bad‘ul Khalqi, bab Shifatu Iblis wa Junuduhu no. 3277. Adapun Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Shahih-nya membawakannya dalam kitab Ash-Shaum, dan diberikan judul babnya oleh Al-Imam An-Nawawi, Fadhlu Syahri Ramadhan no. 2492.

Pintu Kebaikan Terbuka, Pintu Kejelekan Tertutup
Kedatangan Ramadhan akan disambut dengan penuh kegembiraan oleh insan beriman yang selalu merindukan kehadirannya dan menghitung-hitung hari kedatangannya. Banyak keutamaan yang dijanjikan untuk diraih dan didapatkan di bulan mulia ini, di antaranya seperti tersebut dalam hadits yang menjadi pembahasan kita dalam rubrik ‘Hadits’ kali ini. Dan keutamaan yang tersebut dalam hadits di atas didapatkan sejak awal malam Ramadhan yang mubarak sebagaimana tersebut dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berikut ini:
إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِرَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ. وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ، وَ ذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ
“Apabila datang awal malam dari bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin yang sangat jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup tidak ada satu pintupun yang terbuka, sedangkan pintu-pintu surga dibuka tidak ada satu pintupun yang ditutup. Dan seorang penyeru menyerukan: ‘Wahai orang yang menginginkan kebaikan kemarilah. Wahai orang-orang yang menginginkan kejelekan tahanlah.’ Dan Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka, yang demikian itu terjadi pada setiap malam.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 682 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya no. 1682, dihasankan Asy-Syaikh Albani rahimahullahu dalam Al-Misykat no. 1960)

Pada bulan yang penuh barakah ini, kejahatan di muka bumi lebih sedikit, karena jin-jin yang jahat dibelenggu dan diikat, sehingga mereka tidak bebas untuk menyebarkan kerusakan di tengah manusia sebagaimana hal ini dapat mereka lakukan di luar bulan Ramadhan. Di hari-hari itu kaum muslimin tersibukkan dengan ibadah puasa yang dengannya akan mematahkan syahwat. Juga mereka tersibukkan dengan membaca Al-Qur`an dan ibadah-ibadah lainnya. (Al-Mirqah, Asy-Syaikh Mulla ‘Ali Al-Qari pada ta’liq Al-Misykat 1/783, hadits no. 1961)

Ibadah-ibadah ini akan melatih jiwa, membersihkan dan mensucikannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)
Karena amal shalih banyak dilakukan, demikian pula ucapan-ucapan yang baik berlimpah ruah, ditutuplah pintu-pintu jahannam dan dibuka pintu-pintu surga. (Shifatu Shaumin Nabiyyi n fi Ramadhan, hal. 18-19)
Makna ucapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits di atas صُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ adalah setan itu dibelenggu. Dan yang dimaksudkan dengan setan di sini adalah مَرَدَةُ الْجِنِّ sebagaimana tersebut dalam hadits riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Kata مَرَدَةٌ adalah bentuk jamak (lebih dari dua) dari kata الْمَارِدُ yaitu الْعَاتِي الشَّدِيْدُ , maknanya yang sangat angkuh, durhaka, bertindak sewenang-wenang lagi melampaui batas (lihat An-Nihayah fi Gharibil Hadits). Sehingga yang dibelenggu hanyalah setan dari kalangan jin yang sangat jahat, adapun setan dari kalangan manusia tetap berkeliaran.

Kita perlu nyatakan hal ini, kata Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i rahimahullahu, agar jangan sampai engkau mengatakan: “Kami mendapatkan beberapa perselisihan dan fitnah di bulan Ramadhan (lalu bagaimana dikatakan setan-setan itu dibelenggu sementara kejahatan tetap ada? -pent.).” Kita jawab bahwa yang dibelenggu adalah setan dari kalangan jin yang sangat jahat. Sedangkan setan-setan yang kecil dan setan-setan dari kalangan manusia tetap berkeliaran tidak dibelenggu. Demikian pula jiwa yang memerintahkan kepada kejelekan, teman-teman duduk yang jelek dan tabiat yang memang senang dengan fitnah dan pertikaian. Semua ini tetap ada di tengah manusia, tidak terbelenggu kecuali jin-jin yang sangat jahat. (Ijabatus Sa`il ‘ala Ahammil Masa`il, hal. 163)

Al-Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullahu berkata dalam Shahih-nya (3/188): “Bab penyebutan keterangan bahwa hanyalah yang diinginkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ hanyalah jin-jin yang jahat, bukan semua setan. Karena nama setan terkadang diberikan kepada sebagian mereka (tidak dimaukan seluruhnya).”

Di bulan yang mubarak ini ada malaikat yang menyeru kepada kebaikan dan menyeru untuk mengurangi kejelekan sebagaimana dalam lafadz hadits:
وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ
“Wahai orang yang menginginkan kebaikan kemarilah. Wahai orang-orang yang menginginkan kejelekan tahanlah.”

ditulis oleh
Asep Suryana, S. Ag

ZAKAT FITRAH PEMBERSIH JIWA

Zakat Fitri, atau yang lazim disebut zakat fitrah, sudah jamak diketahui sebagai penutup rangkaian ibadah bulan Ramadhan. Bisa jadi sudah banyak pembahasan seputar hal ini yang tersuguh untuk kaum muslimin. Namun tidak ada salahnya jika diulas kembali dengan dilengkapi dalil-dalilnya.

Telah menjadi kewajiban atas kaum muslimin untuk mengetahui hukum-hukum seputar zakat fitrah. Ini dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta'ala mensyariatkan atas mereka untuk menunaikannya usai melakukan kewajiban puasa Ramadhan. Tanpa mempelajari hukum-hukumnya, maka pelaksanaan syariat ini tidak akan sempurna. Sebaliknya, dengan mempelajarinya maka akan sempurna realisasi dari syariat tersebut.

Hikmah Zakat Fitrah
Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, ia berkata:
فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ
“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan untuk orang-orang miskin.” (Hasan, HR. Abu Dawud Kitabul Zakat Bab. Zakatul Fitr: 17 no. 1609 Ibnu Majah: 2/395 K. Zakat Bab Shadaqah Fitri: 21 no: 1827 dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud)

Mengapa disebut Zakat Fitrah?
Sebutan yang populer di kalangan masyarakat kita adalah zakat fitrah. Mengapa demikian? Karena maksud dari zakat ini adalah zakat jiwa, diambil dari kata fitrah, yaitu asal-usul penciptaan jiwa (manusia) sehingga wajib atas setiap jiwa (Fathul Bari, 3/367). Semakna dengan itu Ahmad bin Muhammad Al-Fayyumi menjelaskan bahwa ucapan para ulama “wajib fitrah” maksudnya wajib zakat fitrah. (Al-Mishbahul Munir: 476)

Namun yang lebih populer di kalangan para ulama –wallahu a’lam– disebut زَكَاةُ الْفِطْرِ zakat fithri atau صَدَقَةُ الْفِطْرِ shadaqah fithri. Kata Fithri di sini kembali kepada makna berbuka dari puasa Ramadhan, karena kewajiban tersebut ada setelah selesai menunaikan puasa bulan Ramadhan. Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar Al-’Asqalani menerangkan bahwa sebutan yang kedua ini lebih jelas jika merujuk pada sebab musababnya dan pada sebagian penyebutannya dalam sebagian riwayat. (Lihat Fathul Bari, 3/367)

Hukum Zakat Fitrah
Pendapat yang terkuat, zakat fitrah hukumnya wajib. Ini merupakan pendapat jumhur ulama, di antara mereka adalah Abul Aliyah, Atha’ dan Ibnu Sirin, sebagaimana disebutkan Al-Imam Al-Bukhari. Bahkan Ibnul Mundzir telah menukil ijma’ atas wajibnya fitrah, walaupun tidak benar jika dikatakan ijma’. Namun, ini cukup menunjukkan bahwa mayoritas para ulama berpandangan wajibnya zakat fitrah.

by.
Asep Suryana, S. Ag

ICT KU, PEMBUKA AURATKU

Sombong... itu kesan yang terpancar waktu dulu di sekolah dimana aku bekerja, karena cuma aku satu-satunya guru yang terbilang mahir mengoperasikan komputer walau hanya sekedar mengetik saja, tapi saat aku kenal kamu, malu.. aku malu.. pada diri sendiri, auratku terbuka lebar, kesombongan yang selama ini ada seketika sirna..ternyata alangkah kecilnya aku..
ICT-ku..

Terima kasih.. kamu sudah mengingatkan aku..

meski Pelatihan Jardiknas ini dirasakan kurang efektif karena tidak ada keseimbangan antara materi dengan alokasi waktu yang tersedia..

Aku berharap pada pelatihan di tahun yang akan datang lebih baik lagi dan lebih terprogram lagi..

GAYA RAMADLAN DI SMP PLUS BUSTANUL ULUM

Sejak tahun 2003 SMP Plus Bustanul Ulum Sumelap Tamansari Kota Tasikmalaya setiap bulan Ramadlan bagaikan berubah wajah menjadi sosok Pesantren Salafiyah yang kental dengan tradisi sarungan, karena di bulan Ramadlan Kegiatan Belajar Mengajar yang melibatkan pelajaran formal total dihentikan. pada bulan Ramadlan seluruh siswa wajib mengikuti Kegiatan Ramadlan yang penyelenggaraannya diserahkan secara total ke pesantren. dalam hal Pondok Pesantren Bustanul Ulum.
Suasana Kegiatan Ramadlan sangat jauh berbeda dibanding dengan sussana KBM selain bulan Ramadlan, perbedaan itu dapat terlihat dari seragam siswa yang biasanya memakai pakaian PSAS disulap menjadi memakai pakaian bebas khas ala santri, selain itu jadwal Kegiatannya pun cukup padat, dari mulai berjamaah sholat subuh dilanjutkan dengan Kuliah Subuh, istirahat sebentar masuk lagi pengajian jam 07.00 sampai jam 10.30. setelah berjamaah sholat Dzuhur, mulai jam 13.00 siswa mengikuti pengajian lanjutan sampai jam 15.00, istirahat sholat Ashar sekitar jam 16.00 siswa mengikuti tadarus Al-Qur'an sampai jam 17.00. menjelang berbuka puasa sampai berjamaah sholat taraweh tidak ada kegiatan yang terjadwal. baru mulai belajar lagi jam 20.00 sampai jam 22.30,selesai itu semua siswa istirahat tidur.
Yang unik bisa dirasakan saat berbuka puasa,biasanya berkumpul dengan keluarga dengan menyantap hidangan yang disediakan dirumah,pada bulan Ramadlan ini siswa berbuka dengan menggunakan alat makan ala santri yang terkenal dengan Eblek. (siswa makan liwet dengan menu seadanya berkelompok sambil mengelilingi eblek). sungguh amat terasa kebersamaan ketika berada di Pesantren saat berbuka puasa.
Demikian sekelumit Suasanna kegiatan bulan Ramadlan di SMP Plus Bustanul Ulum.

oleh : Asep Suryana, S. Ag (Guru PAI)